Beranda Pendidikan Nusa dan Tara Si Lilin Penanding Rembulan

Nusa dan Tara Si Lilin Penanding Rembulan

100
0

Perkenalkan, namaku Nusa. Usiaku mulai menginjak 15 tahun. Sejak kecil aku diajarkan orang tuaku membuat berbagai kerajinan tangan, mulai dari dua dimensi sampai tiga dimensi. Karena memang itulah pekerjaan keluargaku turun-temurun. Meski penghasilan tak seberapa, namun bisa memenuhi kebutuhan hidup hingga saat ini.

Ini adik perempuanku satu-satunya, ia bernama Tara. Si kecil yang sangat hobby menulis dari belia. Entah ia mengambil turunan dari mana akan keahlian itu. Karya-karyanya sangat banyak. Sehari ia mampu menulis lima sampai sepuluh karya. Pernah ia coba sebarkan (dijual ke mana-mana), tetapi hampir tidak ada peminat. Bahkan kadang diejek oleh teman-temannya dan tetangga sekitar. Alasannya, buku yang dipakai menulis tidak bagus dan penampilan yang dikenakan kurang rapih layaknya para penulis handal di luaran sana. Padahal mereka belum membaca karya adikku, tetapi matanya terlanjur dibutakan oleh hal yang seharusnya tak perlu dipandang apalagi diutamakan! Wajar bila mendapat perlakuan demikian ia kerap kali menangis tersedu-sedu, selain ia seorang perempuan, usianya pun baru mencapai 10 tahun.

Senjata yang sering sku lempar untuknya adalah kalimat : “Sekarang karya-karyamu tidak dilirik oleh sebagian orang, tapi esok-lusa, percayalah semua orang di negeri ini bahkan negeri lain akan membutuhkan! Semangat, Dek.. jangan putus harapan untuk menjadi Lilin Penanding Rembulan. Kita adalah NUSANTARA!”

Ya, itulah sebabnya mengapa orang tuakami memberi nama Nusa dan Tara, karena mereka menyimpan harapan besar agar kami mampu menjadi sosok terbaik bagi negeri.

……

Seperti biasa, setelah selesai membuat kerajinan Nusa dan Tara mendagangkannya. Keliling kampung bahkan sesekali nekat ke kota-kota besar. Hampir setiap hari berangkat pagi dan pulang malam, mendapat penghasilan rata-rata Rp.300.000; per hari. Terkadang lebih, namun seringnya kurang.

Suatu ketika mereka berdua kelelahan kemudian memutuskan untuk istirahat di samping masjid hingga tertidur sampai waktu Dzuhur tiba. Ada salah seorang yang membangunkan mereka untuk ikut sholat, tetapi mereka hanya menjawab “Iya Pak, nanti saja.” Sang pengajak trsebut melempar senyum. Setelah satu jam berlalu, ia menanti kedua anak itu untuk masuk ke dalam, namun tak kunjung tiba. Akhirnya ia menghampiri kembali dan didapati kedua anak tersebut hendak melangkah pergi.

“Tunggu, Nak. Kalian mau ke mana? Sudah sholatnya?” tanya Bapak itu lembut

“Mau kerja lagi, Pak. Belum Pak, takut waktunya kekuras buat nyari uang nanti pendapatannya dikit..” jawab Tara dengan polos sambal dibetulkan oleh Nusa

Dengan melempar senyum Bapak itu semakin mendekati mereka dan bertanya kembali, “Memangnya kalian kerja apa, Nak Pintar?”

“Kerajinan tangan, Pak. Ada anyaman, rajut, lukisan, hiasan, dll.” Jawab Nusa

“Sama karya tulis juga, Pak..” lanjut Tara dengan semangat

Bapak itu pun segera melihat-lihat jualan mereka dan nampak tertarik.

“Masyaallah! Indah dan unik-unik sekali, Nak. Apa lagi ini karya tulisnya mantap. Saya mau beli semuanya, tapi ada beberapa syarat.”

“Apa itu, Pak?” tanya mereka penasaran diselingi semangat

“Kalian harus mau belajar agama sama saya, dua jam saja… gimana?”

“Hmmm” pikir mereka bingung

“Oke deh, jualannya saya bayar 2x lipat sebagai ganti rugi menguras waktu kalian… gimana?”

“Siap, Pak kami mau!” jawab mereka serempak begitu semangat

Akhirnya mereka berdua masuk ke dalam masjid untuk belajar agama dengan Bapak itu, namun sebelum dimulai mereka diminta untuk sholat. Ternyata, mereka bukan tidak mau sholat, tetapi memang belum bisa tatacaranya. Kamudian Bapak itu mengajarkan dengan baik. Usai sholat, mereka diberi makanan enak yang belum pernah mereka rasakan selama ini. Sehingga belajarpun menjadi lebih fokus.

Karena mereka masih sangat muda, jadi sangat mudah dalam memahami apa yang diajarkan Bapak itu, terlebih Bapak itu memang mengajarkan dengan sangat teliti, hati-hati dan menyenangkan. Akhirnya, masuklah cahaya iman dalam hati mereka sehingga kini mereka merasa takut untuk meninggalkan sholat.

“Jadi intinya, semua di alam semesta ini berjalan sesuai kehendak dan kuasa Allah. Maka, libatkan Allah dalam segala urusan niscaya urusan kalian berjalan dengan sangat baik. Kuncinya do’a, yakin, usaha dan pasrah. Paham?”

“Alhamdulillah, paham, Pak. Terima kasih banyak ilmunya.” Ucap Nusa dan Tara

“Iya, Nak. Jangan lupa berterimakasih juga sama Allah, Ya? Oh iya, ini uangnya ambil semua. Pakai dengan baik untuk hal-hal yang Allah ridhoi. Nanti 5 sampai 7 tahun yang akan datang, saya ingin melihat kalian jadi orang besar!” pesan Bapak itu

“Aamiin Ya Allah…” jawab Nusa dan Tara

……

(Dua pekan kemudian)

          Orang tua Nusa dan Tara merasa kedua anaknya agak berbeda. Sedikit-sedikit berwudhu dan lisannya hampir selalu bergerak setiap saat (dzikir dan sholawat). Jika malam pun kini suka bangun terlebih dalu dan pasti melaksanakan sholat. Hati mereka cukup senang, namun merasa hal demikian mengganggu aktivitas rutin keluarga mereka yang biasanya menghabiskan waktu untuk bekerja. Pendapatanpun sering turun akhir-akhir ini. Lalu mereka menegur kedua anaknya itu. Nusa dan Tara degan santun menjawab bahwa mereka ingin menjadi anak yang shalih dan shalihah serta berharap orang tua mereka pun berubah agar lebih mendekat kepada Sang Pemberi Rezeki. Namun ucapan dan harapan mereka malah ditentang.

“Ibadah hanya membuat waktu mencari rezeki hilang, dan ibadah tidak akan buat kita kaya!” ucap sang Ibu

“Astagfirullah Bu, jangan berkata demikian. Allah Maha Pemurah, Bu…” ucap Nusa

“Kalau benar begitu, harusnya dua minggu kalian ibadah full uang berdatangan! Ini mana? Malah pendapatan makin merosot. Itu yang namanya Pemurah?” tanya sang Ayah

“Semua butuh proses seperti kita membuat kerajinan, Yah..” jawab Tara

“Sudah-sudah, kalua kalian tidak mau nurut lagi sama orang tua, mending angkat kaki, jangan tinggal disini, kita tidak butuh anak pembangkag!” teriak sang Ibu

Akhirnya Nusa dan Tara pun merapikan pakaian mereka. Tetap dengan kesantunan mereka berkata, “Ibu, Ayah… kita pergi bukan untuk membangkang. Tapi mau menjemput keajaiban Tuhan. Mohon do’akan kami. Nanti kalua kami sudah menjadi ‘Penanding Rembulan’ kami jemput Ibu dan Ayah…” ucap Nusa dengan menahan tangis

“Sana pergi, jangan banyak bicara!” Usir sang Ayah

Mereka pamitan, mencoba meraih tangan kedua orang tuanya namun ditepis berkali-kali dan ucapan salam pun tak direspon sama sekali.

(Lima tahun kemudian)

        Kemampuan berkarya Nusa dan Tara semakin melejit. Nama mereka hampir tranding topik di setiap media sosial menempati 3 teratas. Hal demikian tentu diraih tidak secara kebetulan, melainkan usaha yang selalu diasah setiap harinya, pun disertai do’a yang tak kunjung padam di setiap malam dan siang. Kini mereka cukup dikenal oleh banyak orang. Beberapa kerajinan tangan Nusa dipajang di beberapa pameran dan karya tulis Tara pun sebagian mulai diterbitkan dan mendapat banyak pembaca.

……

Suatu ketika, saat mereka sepulang mengisi acara seminar, mereka mendapati beberapa pemuda yang sedang berjudi di tengah jalan. Lalu Nusa memotonya. Melaju ke jalan berikutnya melihat lagi beberapa pemuda yang tengah berpacaran, Nusa kembali memotonya. Terakhir, mendekati jalan meuju pulang, mereka menyaksikan beberapa pemuda yang mencopet barang dan uang orang-orang yang sdang melintasi jalan. Hal tersebut juga Nusa foto.

Sesampainya di rumah Tara heran dan bertanya mengapa Kakaknya itu hanya memoto para pemuda tadi, bukannya melakukan sesuatu yang dapat membuahkan perubahan. Nusa menjawab dengan tenang, “Berdakwah tidak mesti langsung, Dek. Kakak ada rencana untuk semua itu.”

“Rencana apa? Lapor polisi?” tanya Tara penasaran

“Bukan, nanti kamu juga bentar lagi tau. Hehehe…”

“Ih Kakak mulai maen rahasia-rahasiaan!”

“Hussstttt sabar, Adekku yang shalihah…”

……

Beberapa hari kemudian, Nusa meminta tolong kepada kenalannya yang ahli dalam bidang silat dan meminta orang-orang yang ia foto kemarin didatangkan ke hadapannya. Mereka menyanggupi hal itu dan tiga jam kemudian para pemuda tersebut langsung tiba di rumah Nusa. Tara sangat terkejut. Kemudian Nusa meminta temannya itu melepas ikatan tali di tubuh mereka semua.

“Heh apa-apaan lo bawa kita ke sini? Ada maksud apa? Mau cari masalah lo? Mentang-mentang terkenal bisa seenaknya!” teriak mereka dengan volume nyaring

Tanpa menjawab ocehan mereka, Nusa segera memberikan hidangan enak dengan sangat banyak disertai uang di setiap wadahnya.

“Silakan dimakan dan ambil sesuka kalian.” Ucap Nusa lembut

“Untuk apa?” tanya mereka

Shodakoh.” Jawab Nusa santun

“Lo kira kita orang gak mampu apa?!” ucap mereka tidak terima

“Kalau kalian mampu, kenapa harus mencuri dan berjudi? Dan bagi kalian yang berpacaran, saya kira uang itu cukup untuk modal kalian mengadakan akad pernikahan. Atau masih kurang?”

Mereka membisu.

“Kalian masih sangat muda, kerja apa pun masih kuat. Berkarya pun masih fress otaknya. Lantas kenapa waktu dibuang begitu saja? Okelah kalau malas pengennya rebahan, masih mending. Tapi kalau dipake maksiat, kebangetan! Kurang baik apa orang tua kalian, kok seenaknya nginjek-nginjek harga diri orang tua dan ngerobek hatinya?! Kurang apa Allah sama kalian, fisik masih sempurna, kesehatan dikasih. Kok bisa-bisanya berbuat dosa sebesar itu? Emang menurut kalian neraka itu bohong kisahnya? Atau kalian pikir neraka itu sama kayak api rokok? Jauh! Bahkan gunung merapi aja gak ada apa-apanya…”

Ada yang mau mengelak diantara mereka, namun Nusa memotong argumennya dan segera melanjutkan perkataannya, “Saya berkata seperti ini bukan so suci, tapi saya satu saudara seiman dengan kalian. Jujur, saya pun dulu gak bisa sholat bahkan gak kenal Allah sama sekali. Tapi kita harus ada niatan baik dan buktikan niat itu dengan ikhtiar yang nyata. Sekarang pilihan ada di kalian. Kalau mau membantah saya, kenalan polisi di mana-mana. Tapi kalau mau berubah lebih baik dengan sungguh-sungguh, semua makanan itu dan uangnya yang berjumlah Rp.30.000.000; jadi milik kalian. Anggap aja modal, kedepannya kalian usaha sendiri karena hidup harus ada perjuangan.”

Mereka semua menangis terisak-isak. Setelah reda, Nusa mengajak mereka berwudhu dan mengajarkan shalat taubat. Akhirnya hati mereka menemukan ketentraman dan niat berubah baik pun mulai tumbuh.

……

Beberapa bulan kemudian nama Nusa dan Tara semakin melejit hingga ke manca negara. Kini mereka dikenal sebagai pemuda inspiratif dalam berkarya. Dan di beberapa media sosial mereka memperkenalkan orang tua mereka, menunjukan foto dan berkata, “Sungguh, tanpa wasilah kedua orang tua, kami berdua bukanlah apa-apa. Ayah, Ibu, alhamdulillah Nusa dan Tara sudah bisa buktiin kalau kita bisa jadi lilin penanding rembulan. Tolong, siapapun yang melihat Bapak dan Ibu yang ada di foto ini, kabarkan kami, akan kami jemput mereka langsung dan yang memberi kabar akan kami beri uang senilai Rp.20.000.000; tanpa lupa, kami pun mengucap terima kasih kepada seorang Bapak baik hati yang masyaallah pernah mengajarkan kami syari’at agama. Entah siapa namanya, kami rindu ingin berjumpa kembali. Bukankah Bapak sendiri yang mengatakan ingin melihat kami sukses? Jika Bapak menyaksikan ini, tolong hubungi kami, kami pun akan jemput Bapak.”

Beberapa saat kemudian Bapak yang dimaksud Nusa dan Tara itu mengetuk pintu rumah mereka. Mereka berdua terkejut dan sangat bahagia, terlebih Bapak itu pun membawa kedua Orang tua mereka. Dengan penuh kesantunan mereka berdua mencium tangan ketiga orang mulia iersebut dan mempersilakan masuk serta dilayani bagaikan raja dan ratu.

Di tengah perbincangan, Tara bertanya mengapa mereka bertiga bisa bersama. Bapak itu menjawab, bahwasanya ia adalah seorang Ustadz ternama yang bernama Zauary Al-Maknuny, yang saat itu menyamar ke kampung untuk membantu perekonomian masyarakat. Sampai akhirnya bertemu dengan Orang tua Nusa dan Tara yang menceritakan kekecewaan terhadap Nusa dan Tara sebab lebih memilih pergi karena Allah. Akhirnya beliau mengajak untuk tinggal besama dan menanggung kehidupan orang tua Nusa dan Tara serta dibimbing pula agar dekat dengan Allah.

“Masyaallah tabarokallah, Pak.. kami tidak tahu harus membalas apa atas segala kebaikan Bapak.. sepertinya seluruh uang yang kami miliki pun tidak akan cukup..” ucap Nusa dan Tara dengan bola mata yang berkaca-kaca

“Balasan kalian terhadap saya adalah cukup dengan istiqomah menjadi pribadi pecinta ibadah dan menjadi NUSANTARA si lilin penanding rembulan.”

“Insyaallah, itu pasti, Pak.”

“Alhamdulillah… aamiin…”

Mereka berdua kembali mencium tangan Ustadz Zauhary dan dilanjut memeluk kedua orang tua mereka. kini mereka kembali berkumpul dengan nuansa yang lebih baik dari sebelumnya.

SELESAI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here