Beranda Happal Khadijah atau Aisyah? (Part 3)

Khadijah atau Aisyah? (Part 3)

451
0

Part 3

Si Culun yang Genius

 

___________________♡♡♡____________________

Dalam kalam suci-Nya yang agung, ayat “فباي الاء ربكما تكذ بان” sangatlah familiar di telinga kita, begitupun lisan kita. Namun pernahkah hati dan pikiran kita menafakurinya? Bila ia, mestinya rasa syukur tidak pernah luput dalam sanubari.

___________________♡♡♡____________________

 

Esok hari yang hangat, Khadijah mengawali paginya dengan sarapan ruhaniyah berupa melaksanakan shalat duha di ruang shalat dalam rumahnya, yang kemudian ia lanjutkan dengan melantunkan Kalamullah yang syahdu. Usai itu, ia hendak memindahkan buku yang kemarin ia temukan itu ke rak buku, namun tiba-tiba buku itu terjatuh dan tidak sengaja ia melihat dalamnya, yang ternyata berisi tentang referensi yang ia butuhkan untuk mengerjakan tugas dari dosennya. Ia terkejut dengan sejuta syukur. Tetapi, ia pun kebingungan karena belum mendapat idzin. Namun, karena desakan waktu yang terus menyudutkannya, terpaksa ia meminjam buku itu dan ia bersedia bertanggung jawab bila si penulis tidak ikhlas.

♡♡♡

Waktu pengumpulan tugas pun tiba. Seluruh mahasiswa sibuk membaca dan memahami isi dari referensi yang telah mereka dapatkan. Karena selain dikumpulkan, ternyata tugasnya juga dipersentasikan.

Beberapa saat kemudian, sang Dosen tiba. Seluruh mahasiswa bersiap-siap untuk menunggu giliran panggilan. Kali ini Khadijah mendapat giliran terakhir.

Saat Khadijah maju ke depan, seketika suasana hening. Seluruh pandangan tertuju padanya. Tanpa membuang waktu, ia memulai persentasi dengan salam lalu dilanjut dengan pembahasan. Betapa terpukaunya para mahasiswa yang lain, begitupun dengan sang Dosen mendengar penjelasan Khadijah yang sangat perfect itu. Sehingga usai persentasi, semua orang yang ada di kelas bertepuk tangan dengan meriah.

…..

Pulang dari kampus, Khadijah segera menuju tempat di mana ia menemukan buku itu. Ia duduk di sebuah bangku kayu yang terdapat di tempat itu, berharap si pemilik buku tiba di tempat itu.

Beberapa jam telah berlalu, mentari mulai menarik cahayanya, mempersilakan sang gulita menggantikan posisinya. Namun Khadijah masih tetap duduk di tempat itu. Adzan magrib pun berkumandang, kemudian Khadijah menuju masjid untuk melaksanakan shalat magrib.

Usai shalat, ia mencoba untuk memberanikan diri bertanya kepada orang-orang yang keluar dari masjid tentang laki-laki pemilik buku itu. Dan orang terakhir yang ia tanyakan itu mengenakan masker penutup mulut. Orang itu sedikit terkejut dan malah bertanya balik.

“Kamu dapat buku ini dari mana?”

Khadijah menceritakan yang sebenarnya.

“Saya pemilik buku ini. Terima kasih telah mengembalikannya.” kata laki-laki itu dan hendak melangkah pergi. Namun Khadijah memanggilnya.

“Tunggu!”

“Ada apa?”

“Saya mau meminta maaf.”

“Kenapa?”

“Saya memakai referensi dari bukumu untuk mengerjakan tugas kuliah.” kata Khadijah ketakutan

“Oh, yaudah.” jawab laki-laki itu sambil berlalu

♡♡♡

Satu bulan kemudian…

Universitas Al-Adzkiya, tempat Khadijah mengajar, kembali mengadakan beasiswa untuk para anak bangsa yang ingin melanjutkan jenjang akademik lebih tinggi, dengan syarat-syarat tertentu seperti tahun-tahun sebelumnya. Karena Universitas ini termasuk salah satu kampus islam terbesar di Nusantantara, tentu persaingannya pun tidak sedikit dan tidak mudah. Karena bagi mereka yang telah lulus S1 di situ dengan mencapai beragam prestasi, kehidupan selanjutnya akan ditanggung full oleh pihak kampus. Baik itu mau lanjut S2, kerja, dll. Dan itu semua bebas pilih, mau di dalam ataupun luar negeri.

Di suatu siang, tepat pada saat pengetesan beasiswa, ada seorang anak laki-laki dengan pakaian kumuh dengan gaya culun datang untuk mengikuti pengetesan. Semua orang berpikir rendah akan dirinya. Ada yang menertawakan, menghina dan lainnya. Namun ia balas dengan senyuman.

Tiga jam telah berlalu. 90% pengetesan akan selesai. Anak laki-laki itu masih ikut antri. Ia tidak dapat tempat duduk. Ia jongkok di dekat tong sampah, karena memang hanya itulah tempat yang tersisa. Khadijah menyaksikan itu lalu memberikan sebuah kursi pelastik kepadanya.

“Ambillah,” ucap Khadijah sambil menyodorkan kursi pelaatik itu

“Buat saya?” tanya anak laki-laki itu

“Iya.” jawab Khadijah dengan memberi senyum

“Terima kasih.”

“Saya Khadijah, kamu?”

“Mmmm saya Arsil.”

“Semangat ya, semoga lolos tesnya.”

“Aamiin.”

……

Satu jam kemudian, seluruh peserta telah selesai tes. Tinggal tersisa satu orang lagi, yaitu Arsil. Arsil menghampiri si pengetes.

“Mau apa kamu?” tanya si pengetes heran

“Saya mau di tes, Pak.” jawab Arsil lugu

“Oh, maaf saya kira kamu sedang mungutin sampah, soalnya duduk deket tong sampah.”

Semua orang tertawa mendengar itu. Khadijah beristighfar dan Arsil menarik nafas berat.

“Maaf, kira-kira apa saja soal pengetesannya, Pak?” tanya Arsil lembut

“Al-Qur’an, Hadits, Tauhid dan Fiqih. Kamu sanggup?”

Khadijah tersentak karena si pengetes melebihkan soal. Ia hampir mau menyangkal tetapi ditahan oleh Arsil dan Arsil menjawab dengan yakin, “Insya allah saya sanggup, Pak.”

“Ok, kita mulai. Kamu butuh waktu berapa untuk mengingat-ingat hafalanmu?”

“Bismillah, langsung saja sekarang, Pak.”

Jawaban Arsil membuat semua orang terkejut.

“Baik… sekarang juga kita mulai! Bacakan nama surat yang ada di juz 25 lalu bacakan salah satunya dengan lengkap!”

Dengan modal kekuatan bismillah, Arsil menjawab dengan baik. Bahkan bukan hanya yang diminta oleh si pengetes, ia sempurnakan lagi dengan jumlah ayat dan arti beserta tafsir dari surat yang ia bacakan. Sungguh, semua orang nampak terbelalak dan terkagum-kagum padanya. Begitupun dengan Khadijah yang memang sedari tadi mendo’akannya agar lolos tes.

“Soal keduanya, Pak?” tanya Arsil sopan

“Berapa jumlah juz dan hadits yang kamu hafal?”

“Alhamdulillah, saya sudah hafal 30 juz dan baru 300 hadits sohih Imam Bukhori dan Imam Muslim, Pak.” jawab Arsil dengan kerendahan hati

“Kitab Fiqih yang kamu pahami apa?”

“Insya allah : Safinah, Fathul Qarib, Sulamunnajah, Sulamut-Taufiq, Riyadhul badi’ah, Maroqil ubudiah, Fathul mu’in dan I’anatut-tholibin.”

Tiba-tiba Rektor kampus datang menghampiri dan berkata, “Cukup, anak ini saya nyatakan lolos tes dan masuk langsung ke semester 3!”

“Alhamdulillah ya allah…” ucap Arsil kemudian sujud syukur.

“Terima kasih banyak, Pak Rektor.” ucap Arsil terharu

“Iya nak sama-sama. Kalau ada apa-apa jangan sungkan bilang ke saya, ya.”

“Iya, Pak. Insya allah.”

♡♡♡

Satu bulan kemudian…

Arsil dan para mahasiswa baru lainnya telah masuk belajar. Ketika Arsil memasuki gerbang Kampus, tiba-tiba sebagian dari mahasiswa lama menghampiri dan mengelilinginya. Ternyata, mereka memang sedang menunggu kehadirannya. Mereka penasaran dengan sosok Arsil yang dapat beasiswa langsung loncat kelas.

Awalnya, ketika Arsil lewat, mereka tidak berniat untuk menanyakan apakah dia Arsil atau bukan, karena penampilannya jauh dari kata ‘anak genius’. Namun mereka mencoba bertanya.

“Stop!”

Arsil berhenti dan bertanya dengan lugu, “Ada apa ya?”

“Nama lo siapa?” mereka tanya balik

“Saya Arsil.” jawab Arsil sopan

Seketika mereka tertawa lepas

“Lo jangan bohong, anak culun!”

“Tau, ngaku-ngaku aja lo! Gak mungkin seorasng Arsil yang pinternya luar biasa, culun kayak lo.”

Arsil hanya melempar senyum. Tiba-tiba Khodijah menghampiri.

“Arsil, kamu sudah sampai di sini? Dengan siapa?” tanya khadijah lembut

“Iya. Sama Bapak tapi langsung pulang, soalnya mau langsung jualan ketoprak.” jawab Arsil polos

“Oh gitu, yasudah sana ke kelas takut masuk, nanti ketinggalan.”

“Baik. Assalamu’alaikum.”

Arsil pun segera melangkah menuju kelas. Mereka yang menyaksikan itu terbelalak. Mereka sangat terkejut karena yang namanya Arsil jauh dari ekspetasi.

…..

(Di dalam kelas)

Arsil membuka pintu, mengucap salam dan masuk ke dalam. Kedatangannya tak disambut sama sekali. Bahkan ketika ia menanyakan tempat duduk, tidak ada yang menjawab. Akhirnya ia melangkah ke belakang dan duduk di bawah.

Beberapa saat kemudian dosen tiba. Sebelum memulai teori, dosen menanyakan seseorang.

“Oh iya, yang namanya Arsil sudah datang belum?”

“Belum….” jawab para mahasiswa di kelas itu serempak

Arsil pun berdiri dengan tenang dan berkata, “Saya Arsil. Sudah datang, Pak.”

Semua yang ada di situ terkejut, begitupun dengan Dosen.

“Kamu, Arsil?” tanya Dosen sedikit ragu

Arsil tersenyum dan menganggukan kepalanya dengan sopan

“Oh, baik. Silakan memperkenalkan diri.”

“Baik, Pak.”

Arsil pun segera maju dan memperkenalkan diri dengan baik. Tidak ada sedikit pun yang ia tutupi. Ia jujur akan dirinya yang hanya seorang anak dari pedagang ketoprak keliling. Lalu Dosen juga memintanya untuk menceritakan pengalaman ia belajar, mengapa otaknya dapat sehebat itu. Ia jelaskan, bahwa Ayahnya dulu sewaktu muda ingin menjadi penggiat ilmu agama. Namun karena keterbatasan biaya dan beragam penghalang besar lainnya menerpa, akhirnya mimpi itu tidak tercapai. Meski demikian, Ayahnya tidak berhenti. Baginya, biarkan dirinya tidak mampu asalkan anaknya kelak melanjutkan mimpinya itu. Jadi ketika istrinya hamil, tiada henti ia berdo’a di siang dan malam hari agar anak di dalam kandungan istrinya itu menjadi ahli ilmu agama dan berakhlak mulia. Ia bekerja keras, mengumpulkan uang untuk membeli sarana pendukung agar anaknya menjadi apa yang ia harapkan. Uang hasil kerjanya dibagi dua. Pertama untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga dan kedua untuk membeli sarana itu berupa buku-buku, terjemah kitab, dll. Bahkan sejak anaknya berusia satu tahun, ia sudah mengajarkan iqro. sampai genap dua tahun telah lancar membaca huruf-huruf arab. Lalu, setelah mencapai usia dua tahun dilanjutkan belajar juz ‘amma sambil mendengarkan murotal dari audio MP3. Juz ‘amma pun mampu dihafalkan dengan baik pada usia empat tahun plus dengan makhorijul huruf yang baik pula. Setelah itu belajar hafalan Al Quran berikutnya dengan guru ngaji yang ada di kampung. Alhamdulillah, pada usia lima tahun ia mampu menghafal 10 juz secara sempurna dengan dilengkapi kaidah tajwidnya. Namun saat masuk sekolah SD ia mulai merasakan sakit pada jantungnya dan setelah berobat, ternyata jantungnya memang bermasalah. Akhirnya ia pun tidak boleh terlalu capek. Namun ia sudah terlanjur mencintai Al-Qur’an, rasa sakitnya tidak dapat memghalangi niatnya yang ingin menjadi Hafidz mumtaz. Dan qodarullah, meski dalam keadaan sakit parah, Arsil mampu menghafal Al-Qur’an 18 juz beserta tafsirnya ketika lulus SD. Dari situlah ia mendapat beasiswa sekolah di salah satu SMP Islam. Di sana ia melanjutkan hafalannya, namun rasa sakit pada jantungnya semakin menggerogoti. Akhirnya lulus SMP ia hanya mampu menambah dua juz, jadi jumlah hafalannya 20 juz tetapi plus dengan tafsirnya juga. Selain mendalami Al Qur’an, ia pun mendalami ilmu hadits, tauhid, dan fiqih karena memang di sekolahnya dipelajari. Tiba saatnya SMA, ia juga mendapat beasiswa. Tetapi segala kegiatannya semakin terhalang karena sakit yang sudah tidak tertahan lagi. Hingga pada akhirnya Arsil sudah hampir menyerah untuk hidup dan berniat menghentikan niatnya untuk mencapai segala mimpi. Namun, lagi-lagi kuasa Allah menghampiri. Ia mengutus seorang dokter yang berhati malaikat untuk mengangkat penyakitnya dan akhirnya Arsil mampu beraktivitas kembali tanpa beban, hingga tepat di kelas XI ia menyelesaikan hafalannya sampai 30 juz, kemudian mulai mendalami hadits. Dan setelah lulus SMA ia mampu menghafal 300 hadits sohih Imam bukhori dan Imam Muslim, yang nghantarkannya duduk di Universitas Al-Adzkiya dengan beasiswa pula.

Mendengar pengalaman Arsil baruan, membuat semua orang meneteskan air mata. Tepuk tangan yang meriah pun mewakili apresiasi mereka.

🌷🌷🌷

 

Bersambung…..

♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡

Terima kasih telah membaca, semoga berkah dan menginspirasi. Sehingga kita dapat memetik hikmah yang terkandung. 😊

Salam manis,

@SyifaGarfield😸

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here