Beranda Happal Khadijah atau Aisyah? (Part 2)

Khadijah atau Aisyah? (Part 2)

662
0

Part 2

Rindu yang Terobati

♡♡♡

Dalam lembaran kalam suci-Nya yang dimuat pada Q.S Ali Imron : 200, Sang Maha Agung berfirman dengan siratan makna yang memotivasi, “Hai orang-orang yang beriman, berlaku sabarlah dan perkuat kesabaran di antara sesama kalian, dan bersiap siagalah kalian serta bertaqwalah kepada Allah supaya kalian memperoleh kemenangan.”

____________________♡♡♡____________________

……………..

Langit begitu cerah, menawan. Namun bagi Khadijah, tetap saja terasa kelam karena penghias kehidupannya telah semakin menjauh dan menghilang. Dalam sujudnya, sering kali ia meminta kepada sang Penguasa Alam Raya untuk menghentikan detak nadinya, namun kumandang adzan subuh lagi-lagi membukakan kelopak mata indahnya. Ia bingung harus bahagia atau bersedih. Namun ia pun tak ingin mengenal kufur. Karena jika demikian, itu artinya ia telah mengkhianati Snag Penebar Nikmat. Na’udzhubillah…

Layaknya kodrat manusia biasa yang dilapisi kelemahan, hati Khadijah masih terasa sesak dan bola matanya sering kali berembun, bahkan nyaris menghadirkan gerimis tatkala rindu kembali manyapa, menyingkap segala kenangan bersama Raihan. Andai saja saat itu ia hamil, mungkin sekarang batinnya sedikit terobati karena menyaksikan buah hati suaminya. Namun karena faktor kesibukan, selama setahun pernikahan, mereka hanya menjalani pacaran halal. Sehingga tak ada peninggalan yang berharga, hanya foto dan barang-barang yang tersedia di rumah.

Meskipun kepergian Raihan telah genap dua tahun, ruang hati Khadijah masih dipenuhi oleh rasa terhadap Raihan tanpa berkurang sedikitpun. Padahal, tak terhitung berapa jumlah laki-laki yang datang untuk melamar dalam setiap bulannya, tetapi tak ada satupun yang mampu menggeser posisi Raihan. Hatinya tak kunjung terkeruk apa lagi terbuka. Bahkan, hampir saja ia tidak ingin mengenal laki-laki karena tidak ingin menduakan cinta Raihan.

Di suatu malam, Raihan menemui Khadijah dalam mimpi. Mengucapkan terima kasih atas kesetiaan dan kesucian cintanya selama ini. Raihan mengajak Khadijah mengitari sebuah taman yang sangat luas nan indah tak terkira, hingga Khadijah tak henti-hentinya memandangi taman itu dengan takjub. Kemudian Raihan mengajaknya berwudhu dan sholat nerjama’ah. Usai sholat dan berdo’a, Khadijah berkata, “Kak Raihan, tahukah engkau, hal inilah yang sangat aku dambakan. Berjumpa kembali denganmu menjalani ketaatan bersama. Aku ingin selamanya seperti ini! Kakak jangan pergi lagi ya? Retakan hatiku terus berguguran hingga menjelma menjadi serpihan, karena rindu yang telah sampai pada palung hati. Kumohon, jangan sampai itu hancur melebur karena perpisahan yang kedua kalinya. “

Dengan melempar senyuman terindah, Raihan menjawab perkataan istrinya itu. “Wahai istriku yang shalihah, tidakkah engkau ingat bahwa yang kekal hanyalah Allah semata? Khadijah yang aku kenal, bukanlah wanita yang mudah rapuh. Tetapi, sosok wanita yang tangguh dan selalu menyimpan keyakinan terhadap kepastian qodarullah, yang pada hakikatnya membungus hikmah yang tak terhingga. Istriku, dulu kau selalu menguatkanku dalam segala kondisi. Maka kumohon, tersenyumlah bila kau benar-benar mencintaiku. Aku tak ingin menyaksikan kau lemah.”

Mendengar perkataan Raihan barusan, Khadijah pun mencoba tersenyum. Terasa ada serbuk kekuatan yang meresap ke dalam dirinya.

“Suatu saat nanti, kau akan menemuiku dalam wujud yang berbeda.” lanjut Raihan

“Dalam wujud yang berbeda? Maksudnya?” tanya Khadijah tidak paham

Raihan kembali melempar senyum dan menhucap salam, kemudia segera menghilang. Khadijah cemas, ia berteriak untuk mencari suaminya itu namun tak kunjung ia dapati. Hingga akhirnya ia terbangun dari mimpi yang sangat indah itu. Air matanya seketika menderas lalu ia dekap foto Raihan hingga terlelap kembali.

♡♡♡

*Tahun ajaran baru tiba*

…… Saat itu, Khadijah tengah menjalani kuliah S2 dan kini telah menginjak semester empat bertepatan dengan usianya yang sampai pada angka 25 tahun. Namun meski demikian, ia masih terlihat seperti Mahasiswa baru di S1. Sering kali ia disangka berusia 18 tahun karena wajahnya yang memang begitu cantik dan terlihat muda (baby face). Bahkan Mahasiswa yang ia bimbing tidak percaya bahwa ia dosen mereka. Dan tak sedikit adik kelas yang memanggilnya adik atau De Khadijah, baik yang belum mengenalnya maupun yang sudah. Bahkan sudah tidak aneh lagi beberapa laki-laki yang antri untuk mendapatkan hatinya, diantaranya adalah dari kalangan adik kelas.

Namun, meski demikian ia tak sedikitpun merasa dirinya cantik. baginya, cantik sesungguhnya adalah yang terpancar dari kesucian hati yang berdampak pada indahnya akhlak. Ia suka berpenampilan soft, sederhana dan rapi. Tidak pernah berpakaian, berdandan dan berhias secara berlebihan. Cukup menggunakan bedak yang dialasi dengan air wudhu dan lipstik berwarna soft seperi crem, peach, dusti pink dan orage muda. Itu pun ia pakai secara tipis.

*Satu bulan kemudian*

Khadijah mendapat tugas dari dosennya untuk mencari referensi akurat dan lengkap mengenai tafsir surah Muhammad. Dengan segera, saat jam terakhir usai, ia pergi ke toko buku langganannya untuk mencari buku yang ia maksud. Tetapi, setelah sampai, ternyata tokonya tutup dan menurut informasi, akan buka pada bulan depan. Padahal ia diberi waktu hanya satu pekan. Ia mencoba mencari toko buku di kotanya, ternyata tidak ia dapati buku yang ia inginkan. Akhirnya, dengan rasa lelah ia beristirahat sejenak di bangku taman yang ia lintasi sambil meminum jus kurma kesukaannya.

Tak lama dari itu, ia melihat ada seorang pemuda yang sedang menghafal sambil memperagakan anggota tubuh. Anehnya, ketika melihat wajah pemuda itu, seakan-akan ia melihat Raihan. Hampir saja ia mendekati pemuda itu, namun ia segera sadar dan beristighfar. Dan bersamaan dengan itu, adzan ashar berkumandang. Ia pun segera melangkah menuju masjid yang terletak tidak jauh dari taman itu.

Usai sholat, tidak sengaja ia melintasi pemuda itu. Ternyata pemuda itu sedang memurohja’ah hafalan qur’an surah Muhammad. Tiba-tiba air matanya turun begitu saja. Ia teringat, bahwa surah itu adalah surah yang sangat dawam dibaca Raihan setelah sholat tahajud. Ia hentikan langkah kakinya untuk mengobati rasa rindunya. Setelah selesai melantukan ayat suci, pemuda itu terkejut karena ada seorang perempuan yang berdiri di belakangnya.

“Ngapain kamu di sini?” tanya pemuda itu heran dengan raut yang sinis karena sikapnya terhadap perempuan dingin.

“Nama saya Khadijah.” kata Khadijah lembut

“Saya tidak menanyakan nama kamu, yang saya tanyakan, kenapa kamu di sini?!” jawab pemuda itu

“Ma..maaf, saya tidak ada maksud apa-apa saya hanya….” kata Khadijah sedikit gugup. Hal yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.

“Wassalamu’alaikum.” ucap pemuda itu meninggalkan Khadijah tanpa mendengarkan penjelasannya.

Khadijah yang sebelumnya tidak pernah merasakan sikap dingin seperti itu menjadi tersentak dan sedikit sedih. Tetapi ia mencoba menarik nafas dan melupakan itu. Ia berniat melangkahkan kakinya, namun tidak sengaja melihat ada sebuah buku. Kemudian ia ambil buku itu. Karena ingin mengembalikan kepada pemiliknya, ia pun mencari data diri si pemilik buku. Ternyata pemilik buku itu bernama M. Arsil dan terdapat foto pemuda dingin tadi. Awalnya ia tidak ingin melanjutkan niatnya itu karena takut dikasari lagi. Namun sifat kepeduliamnya muncul. Ia takut pemuda tadi membutuhkan buku itu, akhirnya buku itu ia bawa pulang dan akan ia kembalikan di kemudian hari.

____________________♡♡♡____________________

Bersambung….

Terima kasih telah mampir untuk membaca cerita ini. 😊

Mohon maaf bila terdapat kesalahan dalam penulisan 🙏

Novel By : Syifa Garfield😸

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here